perempuan berpolitik

Menyikapi Hukum Syar’i tentang Peran Perempuan dalam Politik

Politik merupakan salah satu tuntunan islam yang memiliki dasar hukum syar’i yang jelas. Banyak sekali literatur agama islam yang membahas tentang kehidupan berpolitik.

Hukum politik dalam islam tentu adalah suatu kewajiban. Sehingga, banyak sekali aturan yang melarang kita untuk berpecah-belah. Prinsipnya, lebih baik hidup membersamai pempimpin yang sah, daripada hidup berdiri sendiri tanpa adanya kepemimpinan.

Aturan tentang politik di agama sudah jelas, bahkan lengkap. Capitantifus.com meriset ada banyak rujukan, kitab yang berasal dari karangan ulama besar banyak tersebar dimana-mana.

Contoh seperti kitab karangan ulama besar, yaitu Ibnu Taimiyah yang membuat buku Asy-Syiasah Asy-Syar’iyyah. Kitab ini biasa diartikan dengan Politik Islam, beberapa orang mengartikan dengan istilah: Hukum Bernegara dalam Islam.

Tuntunan Agama dalam Berpolitik

Berpolitik menurut ajaran islam, merupakan kewenangan yang dimiliki  oleh orang yang berkapabilitas. Ini berarti,  tidak semua orang bisa langsung menjadi pemimpin. Ada alasan kuat yang secara hukum mendasarinya.

Pempimpin terbaik adalah yang ditunjuk oleh Allah langsung, contohnya adalah para anbiya.

Diutusnya para nabi, adalah perwujudan campur tangan Allah dalam mengajari manusia cara memilih pemimpin aka berpolitik dalam Islam.

Penunjukan nabi dan umat terpilih untuk menjadi khilafah di muka bumi,  disertai pula pegangan hidup agar berpedoman agar mencontoh suri tauladan, yaitu para Nabi-Nya.

perempuan berpolitik

Lalu setelah Rasul terakhir Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam, berikutnya siapa?

Ajaran Islam sudah mencontohkan lo. Capitantifus.com merujuk pada ajaran Sahabat Nabi setelah Rasulullah wafat, tentang bagaimana cara Sahabat Nabi berpolitik.

Sepeninggal Rasulullah, sahabat berunding dengan beberapa sahabat terbaik pilihan dalam menentukan siapa pemimpin berikutnya.

Kemudian para sahabat merujuk pada hadist Nabi. Mereka pun menunjuk ahli badr, orang yang pertama-tama masuk Islam untuk bermusyawarah.

Hasilnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang yang sering disebutkan di Hadist Nabi sebagai orang terbaik setelah Nabi. Keputusan sahabat pilihan tersebut, ternyata tidak jauh dari Hadist Nabi.

Begitu pula selanjutnya saat penunjukkan Umar bin Khattab sebagai khalifah, cara yang sama juga terjadi saat penunjukkan Utsman bin Affan, dan seterusnya.

Ajaran Islam Bagi Wanita yang Hendak Terjun ke Dunia Politik

Tuntunan agama tentang keikutsertaan perempuan dalam politik, berikut ini adalah nash yang membahasnya:

Tatkala ada berita sampai kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bahwa bangsa Persia mengangkat putri Kisro (gelar raja Persia dahulu) menjadi raja, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam lantas bersabda, “Suatu kaum itu tidak akan bahagia apabila mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita” (HR. Bukhari no. 4425)

Menurut tafsir Asy-Syinqiti, dari hadits diatas ini, para ulama bersepakat bahwa syarat al imam al a’zhom (kepala negara atau presiden) haruslah laki-laki. (Lihat Adhwa’ul Bayan, 3/34, Asy Syamilah)

peran perempuan dalam politik

Imam Al Baghowiy mengatakan dalam kitab Syarhus Sunnah (10/77), membuat bab khusus bernama Bab “Terlarangnya Wanita Sebagai Pemimpin”. Didalamnya Imam Al Baghowy menyebutkan:

“Para ulama sepakat bahwa wanita tidak boleh jadi pemimpin dan juga hakim. Alasannya, karena pemimpin harus memimpin jihad. Begitu juga seorang pemimpin negara haruslah menyelesaikan urusan kaum muslimin. Seorang hakim haruslah bisa menyelesaikan sengketa. Sedangkan wanita adalah aurat, tidak diperkenankan berhias (apabila keluar rumah). Wanita itu lemah, tidak mampu menyelesaikan setiap urusan karena mereka kurang (akal dan agamanya). Kepemimpinan dan masalah memutuskan suatu perkara adalah tanggung jawab yang begitu urgent. Oleh karena itu yang menyelesaikannya adalah orang yang tidak memiliki kekurangan (seperti wanita) yaitu kaum pria-lah yang pantas menyelesaikannya.”

Dalil syar’i selanjutnya berasal dari Hadist adalah sebagai berikut:

Dan wanita menjadi pemimpin di rumah suaminya, dia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai orang yang diurusnya (HR. Bukhari no. 2409)

Semoga dengan kedua dasar ajaran agama diatas ini dapat memberikan pencerahan bagi kaum hawa yang akan berkarir di politik.