makna toleransi

Tips Tetap Toleran Tanpa Mengorbankan Aqidah Agama

Pendapat tentang toleransi sangat banyak sekali di masyarakat. Makna toleransi menurutku sebenarnya simpel sekali. Tentu sembari menjaga aqidah agama.

Hal yang mendasari prinsip toleransi dalam agama islam adalah membiarkan umat agama lain untuk beribadah dan berhari-raya tanpa mengusiknya.

Toleransi dalam islam bukan berarti ikut beribadah agama orang lain, ini yang ditawarkan JIL. Tentu hal ini sudah ditolak olah Nabi sejak zaman dulu.

Jika punya tetangga nasrani, biarkanlah mereka beribadah tanpa mengusiknya. Inilah prinsip utamanya. Hal ini seperti dalam ayat AlQur’an sebagai berikut:

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Mumtahanah: 8-9)”

Tidak Mencela Nama Tuhan dan Simbol Penganut Agama Lain

Pertama kita tidak boleh mencela nama tuhan agama lain, tujuannya sangat masuk akal. Yaitu agar tuhan kita tidak dibalas dicela juga. Mencela tuhan agama orang lain biasanya menyebabkan agama kita dicela juga. Ini pendapat Syaikh As-Sa’di.

perbedaan toleransi

Kita sebagai orang muslim mempunyai kewajiban menjaga kesucian Allah Subhanahu wa Ta’Ala. Tidak ada cela, cacat maupun hinaan yang ada pada Allah sedikitpun.

Melakukan penghinaan kepada agama orang lain yang mana penganutnya sangat fanatik akan menjadi sebab untuk melakukan pembalasan. Hal ini tentu akan merugikan kita, karena kita menjadi sebab akan balasan mereka itu.

Kita tetap harus berlepas diri dari sesembahan orang non muslim. Toleransi bukan berarti kita membenarkan peribadatan umat lain. Kita diwajibkan berlepas tangan akan kegiatan ibadah mereka.

Berbuat Baik dan Berbuat Adil Kepada Semua Pemeluk Agama

Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil (Ibnu Katsir)

Bentuk berbuat baik dan adil di sini berlaku kepada setiap agama (Ibnu Jarir Ath-Thabari).

Dua imam besar tafsir memaknai ayat Al-Qur’an sepakat akan perilaku baik kepada pemeluk agama lain.

Tetap Meyakini Orang Non Muslim adalah Pelaku Kesyirikan

Semurni, seikhlas apapun ibadah non muslim, mau sampai nangis saat beribadah, pada dasarnya mereka orang yang menyekutukan Allah. Pelakunya disebut dengan pelaku kesyirikan, dan ini adalah dosa terbesar.

Kita meyakini bahwa Allah adalah dzat yang pantas disembah, dan Muhammad adalah adalah Rasulullah. Sehingga orang non muslim tetap kita hukumi sebagai pelaku kesyirikan yang tidak masuk dalam golongan yang selamat.

Allah Bisa Memberikan Hidayah Kepada Siapapun yang Allah Kehendaki

Apapun yang Allah subhanahu wata’ala kehendaki maka hal itu sangat bisa dilakukan jika Allah berkehendak. Termasuk menjadikan seluruh manusia di muka bumi ini mendapatkan hidayah islam.

Kebencian kepada pemeluk non muslim  memang boleh terbenam dalam hati. Tetapi tidak boleh diwujudkan dalam sikap secara langsung tanpa adanya hukum dan kekuasaan yang resmi. Kita tidak tahu, siapa tahu Allah memberikan hidayah kepada mereka kelak.

Kita hanya boleh menghukumi wujud saat ini, bahwa mereka memang non muslim, kita tetap menganggapnya mereka orang syirik yang tidak mendapat hidayah Allah. Tetapi kita tidak tahu takdir, karena Allah mampu akan segala sesuatu. Termasuk memberikan hidayah.

Allah Memberikan Hikmah tentang Perbedaan Agama dan Kebaikan untuk Orang Berakal untuk Memeluk Islam

makna toleransi

Perbedaan agama saat ini memang ditakdirkan Allah untuk menyeleksi umatnya yang berakal. Kemudian hanya orang berakal-lah yang akan menemukan Islam.

Kehendak Allah untuk tidak menjadikan semua manusia masuk islam memiliki hikmah yang luar biasa. Manusia dibiarkan berbeda-beda agama. Lalu Allah menyeleksi siapa diantara mereka yang berkal, maka dia agak memeluk Islam.

Penyebutan hanya orang berakal ini ada di dalam Al-Qur’an.